pandangan alquran tentang penyaliban nabi isa alaihissalam adalah
JikaNabi Isa yang dimaksud dalam Al-Qur'an itu bukan Yesus yang diyakini oleh umat Kristen, lantas koreksi ayat Al-Qur'an tentang kebatilan doktrin penyaliban dan penuhanan Nabi Isa itu ditujukan kepada siapa? Padahal ayat-ayat tersebut banyak memakai sapaan "Ya ahlal kitab" (wahai kaum Ahli Kitab Yahudi dan Kristen).
Implikasikajian sejarah tentang kisah Nabi Isa as dalam Alquran adalah kisah Nabi Isa as dalam Alquran tidak diceritakan sepenuhnya sebagaimana dalam cerita sejarah yang sistematis, sebab Alquran bukan buku sejarah. Dalam penelitian ini menyangkut kelahiran, dipertuhankan serta pembunuhan Nabi Isa as masih menjadi kontroversi.
KedudukanNabi Isa 'alaihissalam Dalam Islam-----Di dalam Alquran, Allah telah menjelaskan kedudukan Nabi Isa 'alaihissalam yang sesungguhnya, bahwa beliau adalah salah satu hamba terbaik pilihan Allah dan juga utusan-Nya yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi-Nya. Bukan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Yahudi yang
tentang(pembunuhan dan penyaliban) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh adalah Isa. Tetapi sebenarnya Allah telah mengangkat Isa itu kepada-Nya dan Allah itu adalah Maha Besar dan Maha Bijaksana.
Sebagianbesar Perjanjian Baru di Bibble (bukan Injil) ditulis oleh Paulus. Paulus milik sastra Yunani dan memiliki afinitas untuk literatur Stoic dan Sinis.Pengetahuan tentang Kitab Suci terbatas pada terjemahan Yunani.Paul menginvestasikan kebudayaan Yunani yang dipadukan dengan sejarah dan Alkitab Yahudi.
Site De Rencontre Suisse Sans Inscription. Siapakah Yang Disalib Menggantikan Isa? - Di antara akidah yang wajib diyakini oleh umat Islam adalah bahwa Nabi Isa alaihissalam masih hidup dan saat ini beliau alaihissalam di langit. Kelak beliau akan turun menjelang hari Kiamat untuk memerangi Dajjal. Adapun orang Yahudi meyakini bahwa mereka telah membunuh Isa dan menganggap Isa kafir. Sementara orang Nasrani/Kristen berkeyakinan bahwa Isa disalib dan mati untuk menebus dosa umat manusia. Adapun akidah umat Islam, itulah yang benar. Allah Ta’ala mengangkat Isa ke langit, menyelamatkannya dari pembunuhan dan penyaliban orang-orang Yahudi. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. An-Nisaa’ 158 Pada tulisan kali ini kita akan membahas mengenai siapa sebenarnya yang disalib menggantikan Isa alaihissalam. Apakah Yudas Iskariot yang menggantikan Isa? dan karena ucapan mereka "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. An-Nisaa’ 157 Mengenai tafsir ayat di atas, terdapat riwayat yang shahih sampai Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma. Beliau menjelaskan, Ketika Allah hendak mengangkat Isa 'alaihissalam ke langit, beliau menemui para muridnya dan ketika itu di rumah ada 12 lelaki Hawariyyin. Kemudian 'Isa mengatakan, “Siapakah di antara kalian yang wajahnya digantikan seperti wajahku, lalu dia akan dibunuh menggantikan aku, dan dia akan mendapatkan surga yang derajatnya sama denganku. Lalu berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya, “Saya.” “Duduk.” Kata Nabi Isa 'alaihissalam. Nabi 'Isa 'alaihissalam mengulang lagi tawarannya, dan pemuda itu angkat tangan dan menyatakan “Saya.” Nabi Isa tetap menyuruhnya untuk duduk. Hingga berlangsung sampai 3 kali. Saat yang ketiga, pemuda ini angkat tangan, “Saya.” Lalu Nabi 'Isa mengatakan, “Baik, kamu orangnya.” Lalu dia diserupakan dengan 'Isa dan 'Isa diangkat melalui lubang angin yang ada di atap, menuju langit. Kemudian datanglah orang Yahudi yang mencarinya, mereka langsung menangkap manusia yang mirip itu, dan langsung membunuhnya, lalu mensalibnya. Tafsir Ibnu Katsir, 2/449. Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar, Sanadnya shahih sampai Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhuma. Demikian pula yang dijelaskan beberapa ulama salaf, bahwa Isa berkata ke mereka, Siapa yang bersedia wajahnya diserupakan dengan wajahku, lalu dia dibunuh menggantikanku dan balasannya dia akan menemaniku di surga.’ Tafsir Al-Quranul Adzhim karya Ibnu Katsir, 2/450. Dalil di atas menunjukkan bahwa yang menggantikan Isa bukanlah orang yang jahat dan berkhianat. Akan tetapi yang menggantikannya adalah salah seorang dari Hawariyyin, yakni murid-murid Isa yang setia. Mengenai siapa namanya tidak ada dalil sahih baik dari Al-Quran maupun hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apakah Yudas Iskariot? Orang Kristen/Nasrani beranggapan Yudas. Akan tetapi Allahu a’lam. Tidak ada dalil sahih mengenai hal itu. Perlu kami ingatkan bahwa siapapun namanya dan siapapun dia yang menggantikan Isa, itu tidak akan menambah iman kaum muslimin. Jadi, kita tidak perlu mencari tahu namanya. Kendatipun ada penelitian sejarah yang mengungkapkan siapa yang menggantikan Isa, itu tidak akan berpengaruh apapun terhadap kita umat Islam. Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 6 Rabiul Akhir 1439 Hijriyah/24 Desember 2017 Masehi.
Peristiwa penyaliban Nabi Isa memiliki banyak penafsiran dan pendapat. Umat Islam umumnya berpendapat bahwa Nabi Isa tidak terbunuh dan tidak disalibkan tetapi langsung diangkat ke atas langit dan akan turun di akhir zaman. Sementara umat Kristiani berpendapat bahwa Nabi Isa Yesus disalibkan dan wafat, tetapi hidup kembali dan pergi ke langit dan duduk di sebelah kanan sang Bapak, beliau juga dianggap Tuhan dan di akhir zaman ia akan turun kembali ke dunia untuk menghakimi manusia. Muslim Ahmadi percaya bahwa Nabi Isa tidak diangkat ke langit melainkan selamat dari penyaliban karena ia diturunkan dari salib dalam keadaan tidak sadarkan diri – bukan kematian. Berikut beberapa fakta bahwa Nabi Isa selamat dari Penyaliban. Tanda Nabi YunusKeselamatan – Bukan KebangkitanDoa di Taman GetsemaniTuhan Menerima Doa Nabi IsaRencana PilatusPilatus Meyakini Yesus tidak bersalahRencana untuk Menyelamatkan Nabi Isa asKaki yang Tidak PatahTerselamatkan dari Pukulan KerasDarah dan AirMayat tidak Mengeluarkan DarahMelanggar AturanDurasi SingkatKematian oleh Penyaliban Seharusnya Berlangsung Berhari-hariRamuan HerbalGaharu dan MurPenyangkalan Nabi IsaTerluka, tetapi Masih Hidup Tanda Nabi Yunus Nabi Isa as pernah menubuatkan bahwa beliau akan selamat seperti Nabi Yunus. Keselamatan – Bukan Kebangkitan Tanda-tanda Yunus yang tertulis di Injil “Maka atas perintah Tuhan seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.” Yunus 117 “Berdoalah Yunus kepada Tuhan, dari dalam perut ikan itu. Katanya Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawabku, dari kedalaman kubur aku berteriak, dan Engkau mendengarkan suaraku.” Yunus 21,2 Tanda yang diberikan kepada orang Niniwe oleh Nabi Yunus adalah beliau diselamatkan dari kematian. Beliau berada dalam kondisi kritis selama beberapa waktu, tapi akhirnya sembuh. Beliau masuk dalam perut ikan secara hidup, bertahan hidup berhari-hari, dan keluar juga secara hidup-hidup. Nasib yang sama telah dinubuatkan terhadap Nabi Isa as. Beliau akan memasuki makam hidup-hidup, tetap selama berhari-hari, dan keluar hidup-hidup. Jika Nabi Isa as wafat, maka tidak akan ada kemiripan dengan Yunus as. Kisah Nabi Yunus adalah cerita keselamatan – bukan kebangkitan. Doa di Taman Getsemani Nabi Isa as berdoa agar diselamatkan dari kematian di kayu salib. Ketika Nabi Isa as menyadari tidak ada cara untuk menghindari rencana licik orang Yahudi untuk menghukum beliau dengan disalib, Nabi Isa as berdoa dengan sungguh-sungguh untuk menghapus cawan kematian’ di kayu salib Markus 1436. Nabi Isa as memiliki keyakinan penuh bahwa doa-doanya di Taman Getsemani akan diterima karena beliau sendiri memberi tahu murid-muridnya “Jika engkau percaya, engkau akan menerima apapun yang engkau minta dalam doa” Matius 2122. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,atau memberi ular, jika ia meminta ikan?” Matius 77-10 Tuhan Menerima Doa Nabi Isa Doa di Taman Getsemani adalah doa terpenting dan agung yang dipanjatkan oleh Nabi Isa as, dan digambarkan dengan sangat jelas di dalam Injil. Tidak mungkin doa semacam itu tidak mencapai singgasana Tuhan, terutama saat Nabi Isa as mengajarkan kepada murid-muridnya tentang kekuatan doa. Tidak perlu diragukan, Injil pun memberi bukti bahwa doa Nabi Isa as diterima. Injil Lukas menyatakan bahwa malaikat datang dari Surga “menguatkan dia” Lukas 2243. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan telah mendengar ketulusan doa Nabi Isa as. Setelah berdoa di taman, Nabi Isa as ditangkap. Salah seorang pengikutnya menghunus pedang, memukul pelayan seorang imam besar dan memotong telinganya. Nabi Isa as dengan keras memarahi pengikutnya itu dan berkata “Orang-orang yang menggunakan pedang akan dibunuh oleh pedang. Tidakkah kamu sadar bahwa aku dapat meminta kepada Bapa-Ku agar ribuan malaikat melindungi kita, dan Dia akan akan dapat segera mengirim mereka?” Matius 26 52-53. Ini menunjukkan bahwa Nabi Isa as yakin sepenuhnya bahwa doanya akan diterima dan menyerahkan semua keadaan di tangan Tuhan, tanpa perlu untuk membela diri. Akhirnya, ketika kematian tampak dekat dan beliau menderita di kayu salib, beliau berseru “Eli Eli lama sabachthani” Ya Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Matius 27 45-46 karena Nabi Isa as tidak menyangka akan mengalami penderitaan seberat ini. Beliau sepenuhnya percaya bahwa doanya akan diterima. Rencana Pilatus Pilatus bersimpati, dan berencana untuk menyelamatkan Nabi Isa as. Pilatus Meyakini Yesus tidak bersalah Pernyataan penting dalam Perjanjian Baru adalah Pontius Pilatus meyakini bahwa Nabi Isa as tidak bersalah dan ia tidak ingin beliau dieksekusi. Salah satu yang mempengaruhinya adalah mimpi Istri Pilatus yang meyakinkannya bahwa Nabi Isa as tidak bersalah, dan pesan yang disampaikannya kepada Pilatus adalah “tinggalkan orang yang tidak bersalah itu” Matius 2719. Tetapi karena kerusuhan yang semakin memuncak, akhirnya Pilatus menyetujui permintaan orang-orang Yahudi supaya Nabi Isa as disalibkan. Namun dia kemudian meminta semangkuk air dan mencuci tangannya di depan orang banyak dan berseru “Saya tidak bertanggung jawab atas kematian orang ini! Itu urusan kalian!” Matius 2724. Rencana untuk Menyelamatkan Nabi Isa as Analisa terhadap Injil jelas menunjukkan bahwa Pilatus memiliki niat untuk menyelamatkan hidup Nabi Isa as dengan segala kemampuannya, sambil mencoba menaati prosedur hukuman sebagaimana diamanatkan oleh hukum Romawi. Tiga poin penting dapat dicatat Pilatus menetapkan hari penyaliban tepat sebelum hari Sabat, karena hukum Yahudi secara khusus melarang adanya tubuh yang digantung di kayu salib pada awal hari Sabat. Kematian di atas salib seharusnya tidak akan terjadi dalam waktu singkat selama 6 jam. Ketika tiba saatnya untuk menurunkan Nabi Isa as dan dua orang lainnya dari kayu salib, orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk mematahkan kaki Yesus Yohanes 1931. Namun perwira yang bertindak atas perintah Pilatus tidak mematahkan kaki Yesus Yohanes 1933. Karena ia telah mengambil langkah-langkah pencegahan ini, ia terkejut ketika diberitahu bahwa Yesus “sudah mati” Markus 1544. Dalam hukum Romawi, seharusnya mayat yang sudah diturunkan dari kayu salib dan dibiarkan menjadi mangsa hewan dan membusuk oleh alam. Namun Pilatus mengizinkan sesuatu yang cukup menarik untuk dilakukan yang menyimpang dari aturan. Pilatus mengizinkan Nabi Isa as diberikan kepada sahabat-sahabatnya bukan kepada para musuh beliau. Kaki yang Tidak Patah Kami yang tidak dipatahkan akan mencegah kematian karena kesulitan pernapasan. Terselamatkan dari Pukulan Keras Setelah Nabi Isa as diduga mati’ di kayu salib seorang tentara Romawi membuat keputusan untuk tidak mematahkan kaki Nabi Isa as saat di kayu salib. Kejadian itu menggenapi nubuatan dan bukan tanpa makna. Injil Yohanes 1936 mengatakan bahwa Kitab Suci telah digenapi berdasarkan Mazmur 3420 – tulangnya tidak akan dipatahkan. Tentara Romawi tidak mau repot-repot mematahkan kaki Nabi Isa as untuk mempercepat kematian karena dia mengira Nabi Isa as sudah meninggal. Mematahkan kaki akan sangat menyiksa, karena trauma berat kehilangan darah dan syok hipovolemik karena mematahkan salah satu tulang besar di tubuh, tibia, di setiap kaki. Perhatian Alkitab untuk tidak mematahkan kaki hanya bisa bermakna jika tubuh itu masih hidup – sebaliknya menjadi tidak berarti jika Nabi Isa as dinyatakan sudah mati. Bacaan lebih lengkap dari Mazmur 34, ayat 19 dan 20 menggarisbawahi hal itu “Banyaklah penderitaan orang baik, tetapi TUHAN membebaskan dia dari semuanya. Tubuhnya tetap dijaga TUHAN, dari tulangnya tak satu pun dipatahkan.” Darah dan Air Semburan dari luka tombak sebagai tanda jantung yang masih berdetak. Mayat tidak Mengeluarkan Darah Sebuah informasi penting disebutkan dalam Injil Yohanes yang mendukung pandangan bahwa Nabi Isa as tidak mati di kayu salib “Seorang dari antara prajurit itu menikam sisi tubuh Yesus dengan tombak, dan segera menyembur keluar darah dan air.” Yohanes 1934 Darah yang menyembur keluar adalah pertanda sirkulasi darah yang masih bagus, saat tombak melukai arteri. Kata-kata semburan’ menyiratkan tekanan darah. Air’ kemungkinan merupakan cairan pleura, yang ada di antara tulang rusuk dan paru-paru. Karena mayat tidak mengeluarkan darah, ayat yang dikutip tersebut menjadi masalah setidaknya bagi seorang Bapa Gereja, Origen. Dalam menafsirkan Yohanes 1934, dia mengakui bahwa umumnya darah membeku setelah kematian, namun aliran darah dalam kasus ini merupakan mukjizat dan karenanya tidak memerlukan penjelasan. Contra Celsus, oleh Origen, diterjemahkan oleh H. Chadwick, Cambridge U. Tombak yang ditusukkan ke sisi tubuh Nabi Isa as tidak dimaksudkan sebagai sebuah serangan untuk membunuh, namun untuk mencari indikasi kematian yang sebenarnya tidak akurat. Jika niatnya untuk membunuh, tentara tersebut seharusnya menikam bagian depan dada untuk melukai jantung. Bagaimanapun, jika seseorang tidak disalibkan untuk jangka waktu yang lama, kematiannya biasanya disebabkan karena patah kaki, seperti yang dilakukan terhadap orang yang disalib bersamaan dengan Nabi Isa as. Melanggar Aturan Kesaksian Injil yang harus digarisbawahi adalah tidak konsistennya tindakan seorang perwira Romawi yang ingin memastikan kematian Nabi Isa as. Di satu sisi, perwira tersebut melihat bahwa Nabi Isa as sudah mati’ sehingga dia tidak merasa perlu untuk mematahkan kakinya karena ada tuntutan orang-orang Yahudi untuk mempercepat kematian Nabi Isa as dengan menghancurkan tulang-tulangnya karena hari Sabat Yohanes 1931 yang merupakan protokol standar. Di sisi lain perwira itu menusuk sisi tubuh Nabi Isa as. Apakah ini dilakukan untuk menyebabkan kematian bila ia tidak yakin Nabi Isa as sudah mati? Jika demikian, mengapa dia tidak mematahkan kaki Nabi Isa as sesuai tata cara standar? Hal ini membuat kita berasumsi bahwa ada unsur simpati setidaknya dari beberapa orang Romawi, dimulai dari Pilatus dan menurunkan simpati tersebut melalui rantai komando. Dikatakan bahwa algojo Romawi adalah orang-orang yang dingin, brutal dan ahli dalam membunuh orang. Tetapi kita menjumpai beberapa ketidak-konsistenan dalam tindakan dari dokumen-dokumen tentang perwira itu, kita juga melihat rasa simpati dari seorang perwira romawi dan bahkan seorang pengikut setia Nabi Isa as, hal itu dapat kita ketahui dari perkataannya saat ia melihat pada salib di mana Nabi Isa as diduga meninggal “Sesungguhnya orang ini adalah Anak Tuhan” Markus 1539. Durasi Singkat Kematian di kayu salib seharusnya dilakukan berhari-hari, bukan berjam-jam. Kematian oleh Penyaliban Seharusnya Berlangsung Berhari-hari Ketika dugaan kematian Nabi Isa as sampai ke telinga Pilatus, dia terkejut saat mengetahui bahwa Nabi Isa as telah meninggal begitu cepat Markus 1544. Kesaksiannya sangat penting dalam pengungkapan kebenaran. Beliau nampaknya sosok yang memiliki lebih banyak pengetahuan di zamannya tentang sifat hukuman penyaliban karena mungkin mengatur banyak penyaliban semacam itu. Meskipun banyak rincian-rincian tentang penyaliban telah hilang saat berakhirnya Kekaisaran Romawi, terdapat banyak catatan yang menunjukkan bahwa hukuman penyaliban ini seharusnya memakan waktu setidaknya dua sampai tiga hari untuk membunuh seseorang. Sebagai contoh, ada sebuah kesaksian yang berasal dari sejarawan Flavius Josephus pada abad pertama masehi yang menggambarkan orang-orang yang selamat dari penyaliban. Seorang penulis, Plutarch sekitar tahun 75 masehi menyebutkan beberapa orang dapat bertahan sekitar sepuluh hari di atas kayu salib. New Bible Dictionary juga menyimpulkan berdasarkan fakta sejarah penyaliban bahwa “kematian dengan metode ini biasanya memakan waktu lama, beberapa kasus memakan waktu sampai 36 jam, dan kadang-kadang sampai sembilan hari” 1962 ed, Intervarsity Press, Page 282. Ramuan Herbal Untuk mengobati orang hidup – bukan untuk membalsem orang mati. Gaharu dan Mur Setelah penyaliban, tubuh Nabi Isa as diberikan kepada murid-muridnya, Yusuf Arimatea dan Nikodemus. Injil Yohanes mencatat bahwa Nikodemus membawa mur dan gaharu “sekitar tiga puluh kilogram” Yohanes 1939. Tanaman-tanaman ini, terutama gaharu digunakan sebagai obat dan dioleskan pada luka. Gaharu digunakan secara luas dalam banyak budaya kuno bahkan sampai hari ini untuk meringankan sakit pada luka luar. Tabib Romawi Pedanius Dioscrorides tahun 75 masehi merekomendasikan gaharu untuk luka dan gangguan kulit. Guru Alexander Agung, Aristoteles, membujuk Alexander Agung untuk menaklukkan pulau Socotra agar dapat memanen tanaman gaharu untuk merawat tentara yang terluka. Menariknya, buku teks pengobatan abad pertengahan dari daerah timur Persia, tahun 1025 berjudul Canon of Medicine oleh Avicenna menyebutkan salep yang disebut Marhami Isa Salep Yesus. Penyangkalan Nabi Isa Nabi Isa menyangkal dirinya sebagai penampakan roh, dengan memperlihatkan bekas luka dan meminta makanan. Terluka, tetapi Masih Hidup Setelah penyaliban, Nabi Isa as berada dalam perawatan para pengikut setia yang membawanya ke sebuah makam yang luas. Jika seorang selamat dari hukuman mati, kita akan berpikir bahwa orang seperti itu pasti memiliki bukti luka yang jelas di tubuhnya. Kita akan menduga ia diam dan menjauh dari tempat penyalibannya, karena bisa saja orang tersebut ketahuan oleh para tentara dan ditangkap kembali. Ketakutan akan ditunjukkan oleh para pengikutnya karena khawatir kepada tuan mereka. Kesaksian Injil dengan tepat mengarah pada kesimpulan ini. Nabi Isa as menunjukkan luka-lukanya kepada Thomas Yohanes 20 25-7, hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak memiliki tubuh supranatural yang dapat hidup kembali, namun tubuh manusia yang penuh luka. Nabi Isa as buru-buru pergi jauh dari area tersebut dan memilih untuk hanya bertemu dengan pengikut terdekatnya “Berilah tahu saudara-saudaraku untuk pergi ke Galilea, dan mereka akan melihat aku di sana” Matius 2810. Para pengikut Nabi Isa as merasa ketakutan sampai-sampai mereka memutuskan untuk tidak memberitahu siapa pun tentang kemunculan Nabi Isa as dari makam Markus 16 8. Tidak sekali pun Nabi Isa as tampil di hadapan para penganiaya atau berjalan melalui pusat kota Yerusalem meminta orang-orang untuk menerimanya sebagai Almasih yang telah bangkit yang telah menebus dosa-dosa mereka. Faktanya Nabi Isa as hanyalah manusia dalam tubuh duniawi dengan daging dan tulangnya Lukas 2439 yang menderita rasa lapar Lukas 2441 dan bersembunyi dari perhatian banyak orang. Untuk meyakinkan murid-muridnya bahwa dia memiliki tubuh terluka yang sama, Nabi Isa as menunjukkan bahwa dia tidak pernah mati saat Tuhan menyelamatkan dia dari cobaan tersebut seperti Yunus keluar hidup-hidup dari perut ikan. lihat “Tanda Yunus” Sumber – Jesus – A Humble Prophet of GodPenerjemah Khaerani Adenan
Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya “Dan karena ucapan mereka orang-orang Yahudi Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” An-Nisa’ 157-158 Para pembaca, sangatlah pantas jika orang-orang Yahudi adalah sekelompok manusia yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah subhanahu wata’ala. Perangainya yang licik dan perilakunya yang jahat menjadikan mereka sebagai umat yang hina dan rendah. Banyak ayat Al-Qur’an yang telah menjelaskan tentang watak dan sepak terjang Yahudi yang tercela ini. Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah subhanahu wata’ala yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau. Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum muslimin secara umum merupakan perbuatan yang lebih ringan lagi bagi mereka. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian orang-orang Yahudi di masa kini dengan mudahnya melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya. Orang-orang Yahudi mengklaim telah berhasil membunuh Nabi Isa alaihissalam. Namun ayat 157 surah An-Nisa’ ini membantah pengakuan mereka itu. Allah subhanahu wata’ala menjaga dan melindungi Nabi Isa alaihissalam dari makar jahat mereka. Allah subhanahu wata’ala tidak membiarkan jiwa dan darah Nabi-Nya yang suci itu terkotori oleh tangan-tangan najis orang-orang Yahudi. Peristiwa Penyaliban Itu Dalam tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kisah mengenai orang-orang Yahudi -semoga laknat Allah subhanahu wata’ala, kemurkaan, kemarahan, dan adzab-Nya selalu menimpa mereka- adalah tatkala Allah subhanahu wata’ala mengutus Isa bin Maryam alaihissalamdengan membawa bukti-bukti kebenaran risalah-Nya yang nyata dan petunjuk, mereka orang-orang Yahudi dengki kepadanya karena beliau telah dikaruniai oleh Allah subhanahu wata’ala berupa risalah kenabian dan berbagai mukjizat yang nyata. Di antara mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit sopak penyakit belang pada kulit, menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Allah subhanahu wata’ala, mampu membuat patung seekor burung dari tanah liat lalu ia meniupnya dan jadilah patung itu burung sungguhan dan dapat terbang dengan disaksikan oleh banyak orang dengan seizin Allah subhanahu wata’ala, serta berbagai mukjizat lainnya sebagai bentuk pemuliaan Allah subhanahu wata’ala tehadap beliau alaihissalam. Berbagai mukjizat tersebut atas kehendak Allah subhanahu wata’ala melalui kedua tangan Nabi Isa alaihissalam. Walaupun demikian, orang-orang Yahudi mendustakan beliau dan menyelisihinya, serta berupaya untuk mengganggunya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sehingga hal ini menyebabkan Nabiyullah Isa alaihissalam tidak bisa tinggal dalam satu negeri bersama mereka, namun beliau banyak mengembara, dan ibunya Maryam pun ikut mengembara bersama beliau alaihissalam. Orang-orang Yahudi masih belum puas dengan keadaan ini. Akhirnya mereka pun berusaha menemui Raja Dimasyq Damaskus di masa itu. Raja Dimasyq adalah seorang musyrik penyembah bintang, para pemeluk agamanya dikenal dengan sebutan pemeluk agama Yunani. Ketika orang-orang Yahudi itu sampai kepada raja tersebut, mereka menyampaikan berita dusta kepadanya bahwa di Baitul Maqdis terdapat seorang lelaki yang menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, menyesatkan mereka, dan mengajak mereka agar memberontak kepada raja. Si raja pun murka demi mendengar laporan tersebut. Kemudian ia menulis surat kepada wakilnya kepala daerah yang ada di Baitul Maqdis, memerintahkan agar menangkap lelaki yang dimaksud, lalu menyalibnya, dan meletakkan duri-duri di kepalanya agar tidak mengganggu orang-orang lagi. Ketika surat raja itu sampai kepadanya, ia segera melaksanakan perintah rajanya itu. Lalu ia berangkat bersama sekelompok orang Yahudi menuju sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isaalaihissalam. Ketika itu, beliau bersama sejumlah sahabatnya, jumlah mereka ada dua belas atau tiga belas orang. Menurut pendapat yang lain adalah tujuh belas orang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, yaitu malam Sabtu. Mereka pun mengepung rumah tersebut. Ketika Nabi Isa alaihissalam merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia terpaksa keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka, maka ia pun berkata kepada para sahabatnya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.” Maka ada seorang pemuda yang bersedia untuk itu. Namun Nabi Isa alaihissalam memandang pemuda itu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga ia pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali. Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedia kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa alaihissalam pun berkata, “Kalau memang demikian, kamulah orangnya.” Maka Allah subhanahu wata’ala menjadikannya mirip seperti Nabi Isa alaihissalam, hingga seolah-olah ia memang Nabi Isa alaihissalam sendiri. Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa alaihissalam tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga ia pun tertidur. Dalam keadaan demikian, Allah subhanahu wata’ala mengangkat beliau alaihissalam menuju langit sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 55. Setelah Nabi Isa ’alaihissalam diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika mereka orang-orang yang hendak menangkap Nabi Isa alaihissalam melihat pemuda yang mirip Nabi Isa alaihissalam itu, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa alaihissalam. Pada malam itu juga mereka menangkap dan menyalibnya, serta meletakkan duri-duri di kepalanya. Orang-orang Yahudi menampakkan bahwa merekalah yang telah berhasil menyalib Nabi Isa alaihissalamdan mereka merasa bangga dengan hal ini. Ternyata beberapa kalangan dari orang-orang Nasrani juga mempercayai hal tersebut bahwa Nabi Isa alaihissalam disalib karena kebodohan dan pendeknya akalnya mereka. Kecuali mereka yang ada di rumah tersebut bersama Nabi Isa Al-Masih alaihissalam, mereka tidak mempercayainya karena menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa alaihissalam diangkat ke langit. Adapun selain dari mereka, semuanya menyangka sebagaimana yang disangka oleh orang-orang Yahudi, bahwa orang yang disalib itu adalah Isa Al-Masih putra Maryam alaihissalam. Hingga akhirnya mereka pun menyebutkan sebuah mitos bahwa Ibunda Maryam duduk di bawah orang yang disalib itu dan menangisinya. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa alaihissalam yang mereka sangka disalib itu bisa berbicara dengan ibundanya itu. Wallahu a’lam. lihat Tafsir Ibnu Katsir Mereka Sendiri Meragukannya Walaupun mereka mengaku telah membunuh dan menyalib Isa Al-Masih alaihissalam, namun sebenarnya mereka sendiri ragu, apakah yang dibunuh dan disalib itu benar-benar Nabi Isa alaihissalamatau bukan. Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya menyatakan artinya “Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” An-Nisa’ 157. Kini, Orang-Orang Nasrani Telah Menyimpang dari Ajaran Isa Al–Masih Orang-orang Nasrani yang masih saja mempercayai bahwa Nabi Isa alaihissalam Yesus menurut mereka sudah meninggal dalam keadaan tersalib, maka sungguh mereka telah tertipu. Allah subhanahu wata’ala telah menyelamatkan dan mengangkat beliau ke langit. Dengan kehendak dan kemampuan-Nya, Nabi Isa alaihissalam masih hidup hingga sekarang, dan nanti di akhir zaman, Allah subhanahu wata’alaakan menurunkan beliau kembali ke muka bumi dalam rangka menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, menyeru umat manusia untuk menauhidkan Allah subhanahu wata’ala, mengajak mereka agar beribadah dan sujud hanya kepada-Nya, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan. Demikianlah sejak awal mula diangkat menjadi rasul, sampai meninggalnya nanti setelah turun ke bumi, Nabi Isa alaihissalam senantiasa mengajak umat manusia agar beribadah hanya kepada Allahsubhanahu wata’ala. Nabi Isa alaihissalam tidak akan pernah rela diibadahi dan dipertuhankan. Nabi Isaalaihissalam tidak pernah mengajak umatnya untuk menyembah beliau dan tidak pula mengajak umatnya agar sujud kepada ibundanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, “Dan ingatlah ketika Allah berfirman “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia “Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah?” Isa menjawab “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya.” Al-Maidah 116 Kalau Nabi Isa alaihissalam menyaksikan keyakinan dan kehidupan beragama orang-orang Nasrani sekarang, pasti beliau akan mengingkarinya dan akan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih sendiri berkata “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua.” Al-Maidah 72 Allah subhanahu wata’ala juga berfirman artinya, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali sesembahan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” Al-Maidah 73 Allah subhanahu wata’ala juga berfirman artinya, “Orang-orang Yahudi berkata “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” At-Taubah 30 Ketika turun ke muka bumi ini, Nabi Isa alaihissalam akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal, menghancurkan salib yang merupakan simbol kebesaran dan syiar kaum Nasrani, membunuh babi-babi, dan beliau tidak menghendaki apapun dari orang-orang kafir melainkan mereka harus masuk Islam, karena jizyah upeti sudah tidak berlaku lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau shallallahu alaihi wasallam وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ. “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya Demi Allah, sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil yang menjalankan syariat ini, ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, meletakkan tidak memberlakukan jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” Muttafaqun Alaihi Wallahu a’lam bish shawab.
136 FOLLOW untuk mengikuti artikel-artikel mencerahkan Follow Us IslamLib – Apakah benar Yesus disalib atau tidak? Apakah penyaliban adalah kejadian yang secara historis pernah berlangsung? Umat Islam, selama ini, berkeyakinan bahwa Yesus atau Nabi Isa sama sekali tidak pernah disalib. Berbeda dengan pandangan yang dominan dalam kekristenan, umat Islam menolak penyaliban Yesus. Biasanya, dasar yang dipakai oleh umat Islam adalah sebuah penegasan dalam Quran sebagaimana tergambar dalam ayat no. 157 di Surah Al-Nisa’ surah ke-4. Ayat ini menegaskan bahwa Isa tidak pernah dibunuh dan disalibkan sebagaimana disangkakan oleh orang-orang Yahudi selama ini ingat Quran justru menyebut orang-orang Yahudi, bukan Kristen. Melainkan “diserupakan” wajahnya dengan wajah orang lain. Redaksi yang dipakai adalah “wa lakin syubbiha lahum.” Jika kita ikuti ayat-ayat yang ada sebelum atau setelah ayat no. 157 itu, akan tergambar sebuah konteks yang menarik. Konteks ayat ini sebetulnya bukanlah polemik atau debat antara pihak Islam dan Kristen. Memang ada “polemik” tersembunyi di sana, tetapi bukan diarahkan kepada pihak Kristen, melainkan Yahudi. LIKE untuk mengikuti artikel-artikel mencerahkan Konteks ayat itu adalah kritik terhadap orang-orang Yahudi yang melakukan banyak pembangkangan terhadap perintah Tuhan, melakukan pembunuhan atas nabi-nabi, dan mempersekusi Nabi Isa. Mereka menyangka telah membunuh nabi dari Nazaret itu, tetapi sebetulnya tidak. Mereka, menurut Quran, sejatinya tidak pernah membunuh dan menyalibkan Isa/Yesus, sebab yang mereka salibkan adalah “orang lain” yang serupa dengan dia. Jika kita telaah ungkapan “wa lakin syubbiha lahum” yang ada dalam ayat tadi, tidak dengan terang dan jelas ia menunjukkan bahwa proses penyaliban itu berlangsung melalui proses “dissimulasi” atau pengecohan dengan cara penyerupaan – ada orang lain yang serupa wajahnya dengan Yesus lalu disalibkan. Ayat itu tidak menjukkan dengan jelas pengertian semacam ini. Menurut saya, pengertian semacam ini datang dari para penafsir Muslim belakangan. Yang menarik, tidak ada keterangan dari Nabi Muhammad sendiri sebagai penerima wahyu mengenai makna ayat tersebut. Para sahabat Nabi, anehnya, juga tidak merasa perlu menanyakan perkara ini kepadanya. Ini semua sekaligus menambahkan suatu misteri yang menyelimuti ayat ini. Apa sebetulnya makna ayat itu? Kenapa tidak pernah menjadi soal yang perlu diklarifikasi oleh para sahabat? Apakah pada zaman Nabi perkara penyaliban Yesus dianggap sebagai “non-issue”, sebab tak ada komunitas Kristen yang cukup siginifikan di Madinah, tempat tinggal Nabi? Kemungkinan-kemungkinan semacam itu bisa saja terjadi. Tetapi, bagi saya, teka-teki tentang ayat penyaliban ini masih terus membuka banyak penafsiran. Para penafsir Quran sendiri mengajukan sejumlah kemungkinan penafsiran yang, menurut saya, hanya didasarkan pada spekulasi belaka. Kebingungan para penafsir Quran ini, jika mau diusut-usut, kembalinya kepada satu soal saja sebab tak ada “dalil naqli” dalil tradisional yang bersumber dari Quran atau sunnah/hadis yang memberikan keterangan apa sebetulnya makna ungkapan “wa lakin syubbiha lahum” dalam ayat di atas. Andai ada keterangan dari Nabi, atau Quran sendiri menjelaskan apa makna ungkapan itu, sudah tentu masalahnya akan selesai. Dalam Mafatih al-Ghaib karya Fakhr al-Din al-Razi w. 1209, karya tafsir yang banyak dibaca di kalangan sunni, terdapat diskusi yang menarik tentang perbedaan para penafsir klasik mengenai makna ayat ini, juga tentang sejumlah masalah yang dipicu olehnya. Salah satu masalah yang timbul dari ayat ini, menurut al-Razi, adalah kemungkinan hancurnya kepercayaan kita terhadap “al-mahsusat” hal-hal yang bisa diindera yang merupakan dasar dari pengetahuan manusia. Bagaimana ini terjadi? Penjelasannya adalah sebagai berikut. Jika kita membenarkan kemungkinan “penyerupaan” atau dissimulasi seperti diungkap dalam ayat itu, kita bisa kehilangan kepercayaan pada apapun yang kita lihat di dunia ini. Kita melihat teman kita bernama Budi, misalnya. Tetapi mungkin dia bukan Budi, melainkan orang lain yang wajahnya serupa dengan Budi. Jika ini diterus-teruskan, kita bisa mengatakan bahwa para sahabat melihat Nabi, tetapi yang mereka lihat sebetulnya bukan Nabi, melainkan orang lain yang wajahnya serupa dengan dia. Dengan kata lain, anggapan bahwa Yesus tidak disalibkan, melainkan Tuhan menaruh orang lain yang wajahnya serupa dengan dia, bisa membuka Kotak Pandora yang sangat berbahaya. Sebab kita bisa kehilangan kepercayaan kepada apapun yang dilihat oleh mata kita sendiri. Kita kehilangan pegangan terhadap dasar paling elementer dari pengetahuan manusia, yaitu al-mahsusat, hal-hal yang bisa diindera the sensible. Al-Razi mengatakan, pandangan semacam ini akan membuka apa yang ia sebut sebagai pintu “sophistry” fa-hadza yaftah bab al-safsathah Mafatih al-Ghaib, jilid ke-6, hal. 79. Apa yang dirujuk oleh al-Razi di sini adalah pandangan kaum Sofis dalam sejarah filsafat Yunani yang kita kenal dengan skeptisisme atau keraguan mereka terhadap pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari indera manusia. Bagi filsuf/teolog Muslim seperti al-Razi, sofisme semacam ini mengandung bahaya besar sebab menghancurkan salah satu dasar penting dalam agama, yaitu al-khabar al-mutawatir berita yang diceritakan banyak orang sehingga mustahil bohong. Dengan kata lain, penafsir Quran sendiri seperti al-Razi memiliki “misgiving” atau keragu-raguan terhadap pengertian ayat di atas. Tafsiran-tafsiran pihak Muslim yang dikutip oleh al-Razi, menurut saya, tidak cukup meyakinkan. Sejumlah tafsir itu saya kutipkan di sini. Kemungkinan pertama Saat orang-orang Yahudi hendak membunuh Yesus, Tuhan segera mengangkat dan menerbangkannya ke langit. Takut karena kegagalan membunuh dan menyalib Yesus akan menimbulkan protes dari kaum awam, para elit Yahudi bersekongkol untuk membunuh seseorang secara random, lalu mereka katakan bahwa orang itu adalah Yesus. Sebab, kebanyakan orang awam Yahudi tidak tahu wajah Yesus secara persis. Komentar saya atas tafsiran semacam ini Ini hanyalah spekulasi yang tanpa dasar. Anggapan orang-orang awam Yahudi di Jerusalem tak mengenal wajah Yesus jelas tak masuk akal. Nyaris mustahil membayangkan tak ada satupun yang tidak mengenali wajah Yesus sementara dia menjadi berita besar di Yerusalem karena telah menimbulkan “kekacauan” di Bait Allah. Kemungkinan kedua seperti dituturkan oleh al-Razi Saat orang-orang Yahudi mengetahui bahwa Yesus berada di sebuah rumah mungkin yang dimaksud adalah Taman Getsemani?, mereka mengutus seseorang bernama Titaeus ? untuk mejemputnya, menyeretnya keluar, dan membunuhnya. Saat itulah, Tuhan turun tangan dengan mengangkat Yesus, mengeluarkannya dari rumah itu lewat atap, dan menaruh orang lain yang mirip dia sebagai pengganti. Komentar saya Jika kemungkinan ini kita terima, tentu dia akan bertabrakan dengan keterangan al-Razi sebelumnya tentang ketidak-mungkinan skenario dissimulasi, sebab hal itu akan menghancurkan sendi-sendi pengetahuan kita, seperti sudah diutarakan oleh al-Razi sebelumnya. Yang menarik, jika kita baca tafsir-tafsir klasik, sangat kentara bahwa para penafsir Quran merasa tidak perlu mengkonfirmasi soal ini terhadap sumber-sumber Kristen atau non-Kristen. Peristiwa penyaliban Yesus secara historis memang tarjadi dan sulit ditolak. Salah satu sumber non-Kristen yang mengkonfirmasi peristiwa ini adalah kesaksian sejarawan Yahudi Yosephus dalam karyanya yang terkenal, Jewish Antiquities. Agak aneh bahwa penafsir Quran ini masuk ke wilayah sejarah penyaliban Yesus tetapi tidak merujuk kepada sumber-sumber di luar Islam, minimal sumber Kristen. Sementara pihak Islam sendiri tidak memiliki sumber sejarah yang “otonom”. Ini sama saja dengan seorang di luar Islam yang menulis sejarah tentang Nabi Muhammad tapi sama sekali tidak merujuk sumber-sumber Islam. Akibatnya, yang kita lihat adalah sejumlah spekulasi tak berdasar seperti yang kita baca dalam tafsir-tafsir klasik seperti karya al-Razi itu. Yang menarik, al-Razi menyebutkan sebuah data tentang penafsiran kelompok Nestorian mengenai penyaliban Yesus ini. Nestorianisme adalah sekte Kristen yang banyak berkembang di kawasan Arab dan berpusat di Persia. Sekte ini dinyatakan sesat melalui Konsili Efesus yang pertama pada 431. Kelompok Nestorian mengajukan sebuah penafsiran berikut yang dibunuh dan disalibkan adalah tubuh Yesus sebagai manusia, bukan Yesus yang mengandung dimensi atau unsur ketuhanan. Al-Razi mengulas panjang lebar pandangan ini yang mengesankan pada saya bahwa seolah-olah dia memberikan persetujuan, atau sekurang-kurangnya simpati pada pandangan ini. Saya memiliki tafsiran sendiri atas ayat mengenai penyaliban Yesus ini. Tesis yang saya ikuti ialah sebagai berikut Apa yang disebut sebagai kristologi atau pandangan Quran tentang Kristen termasuk tentang Yesus tidaklah datang dari ruang kosong. Kristologi Quran pada dasarnya hanyalah semacam seleksi terhadap pandangan-pandangan teologis yang sudah ada dalam Kristen. Quran hanya memihak salah satu pendapat sekte tertentu yang ia anggap cocok dengan wawasan teologisnya. Quran tak membawa “pendapat” yang baru sama sekali. Sebagaimana kita tahu, apa yang disebut sebagai doktrin Kristen ortodoks doktrin yang pakem dan dianggap benar seperti dirumuskan dalam sejumlah konsili awal dulu konsili sidang para uskup “sedunia” untuk membahas masalah-masalah doktrinal; semacam forum Bahsul Masa’il-nya Nahdlatul Ulama, bukanlah doktrin yang muncul mendadak, tetapi lahir secara gradual. Pada abad ke-2 dan ke-3, Kristen yang masih dalam masa pertumbuhan menyaksikan banyak sekali perdebatan dan perpecahan internal di sekitar soal-soal doktrinal. Perpecahan ini terutama menyangkut hakekat ketuhanan dan kemanusiaan Yesus, serta bagaimana doktrin trinitas harus dipahami. Ini sama dengan kemunculan berbagai sekte dalam Islam sepeninggal Nabi Muhammad dulu. Masa-masa sebelum terbentuknya ortodoksi Sunni dan Syiah, masyarakat Islam menyaksikan perdebatan teologi yang keras dan menimbulkan sekte yang bermacam-macam. Sebagaimana dalam kasus Kristen, perpecahan dalam Islam juga terjadi pada masa-masa awal sebelum apa yang disebut ortodoksi baik Sunni atau Syiah terbentuk secara mapan. Salah satu sekte Kristen awal adalah kelompok yang disebut sekte Docetis. Sekte ini berpandangan bahwa “Sang Juruselamat itu tanpa kelahiran dan tanpa tubuh jasmani serta tanpa rupa dan hanya dalam penampakan Dia kelihatan seperti seorang manusia.” Baca Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen [BPK Gunung Mulia, 2003], hal 93. Doketisme berasal dari kata Yunani dokesis yang artinya penampakan. Sekte ini berkeyakinan bahwa Yesus hanyalah dalam penampakannya saja memiliki tubuh manusia. Sekte Docetis adalah sekte sempalan dari sekte lain yang disebut Gnostisisme. Kelompok yang terakhir ini memiliki pandangan tentang dualitas tubuh dan roh. Mereka berkeyakinan bahwa tubuh manusia hanyalah bentuk yang maya, penjara bagi roh manusia. Baik kelompok Docetis maupun Gnostik berkembang pada abad ke-2 Masehi pada saat Kristen masih dalam fase pertumbuhan. Dalam pandangan saya, sejarah pertikaian sektarian dalam Kristen awal ini bisa menjelaskan sejumlah “misteri” mengenai kristologi Quran. Penolakan Quran terhadap penyaliban Yesus dan pandangannya bahwa telah terjadi proses “tasybih” atau penyerupaan dissimulation mengingatkan kita pada pandangan sekte Docetis ini. Sekte-sekte Kristen yang dianggap “sesat” memang banyak berkembang di kawasan Timur, termasuk di daerah Arab. Sangat mungkin bahwa pandangan Muhammad mengenai penyaliban Yesus sebagaimana direkam dalam QS 4157 itu dipengaruhi oleh sekte Docetis tersebut. Ungkapan “wa lakin syubbiha lahum” menjadi terang benderang jika dipahami melalui pandangan sekte Docetis yang dianggap sesat oleh gereja utama ini. Makna ayat itu, dengan demikian, menjadi demikian mereka orang-orang Yahudi tidak membunuh dan menyalibkan Yesus, melainkan mereka hanya membunuh tubuh penampakan dokesis Yesus yang mirip dengan dia. Ini mengkonfirmasi tesis saya di atas kristologi Quran tidak membawa hal baru, melainkan hanya menyeleksi satu pandangan di antara sekian pandangan yang ada dalam pemikiran teologi Kristen. Dalam hal penyaliban Yesus ini, Quran memilih menyeleksi pandangan sekte Docetis sebagai pandangan teologis yang lebih sesuai dengan wawasan yang dianut Quran. Meskipun, sekali lagi, pandangan sekte ini dipandang sebagai bidaah atau sesat oleh gereja mainstream.[]
pandangan alquran tentang penyaliban nabi isa alaihissalam adalah